Jumat Religi SMKN 2 Semarang: Mengupas Etika Berpakaian Dalam Islam & Kesadaran Kematian

Pada Jumat, 9 Agustus 2024, SMKN 2 Semarang menggelar kegiatan Jumat Religi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah dan karyawan. Acara ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman agama dan meningkatkan spiritualitas peserta. Kegiatan tersebut diisi oleh Bapak Abbas, seorang guru agama yang sangat luar biasa ceramahnya dan penuh hikmah. Tema yang diangkat adalah ‘Etika Berpakaian Dalam Islam: Larangan Sutera Bagi Laki-Laki, Kebolehan Bagi Perempuan, dan Hubungannya Dengan Kesadaran Kematian.’ Tema ini diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada seluruh peserta mengenai pentingnya menjaga etika berpakaian sesuai dengan ajaran Islam dan terus mengingat bahwa kematian itu akan terjadi. Dalam ceramahnya, Bapak Abbas pertama-tama menjelaskan tentang ketentuan pakaian bagi laki-laki dan perempuan dalam Islam. Beliau menekankan bahwa dalam Islam, terdapat aturan yang jelas mengenai cara berpakaian. Bagi laki-laki, dilarang mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera, karena bahan ini dianggap sebagai simbol kemewahan yang dapat menimbulkan sifat sombong. Di sisi lain, perempuan diperbolehkan mengenakan sutera, asalkan tetap menjaga kesopanan dan tidak berlebihan. Ketentuan ini, menurut Bapak Abbas, bukan hanya soal material pakaian, tetapi juga merupakan upaya menjaga akhlak dan sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Bapak Abbas mengingatkan agar setiap muslim tidak menjadi sombong jika diberi kenikmatan oleh Allah. Dalam konteks berpakaian, sombong bisa muncul ketika seseorang mengenakan pakaian yang mewah dan merasa lebih baik daripada orang lain. Padahal, semua kenikmatan yang diberikan Allah adalah titipan sementara yang harus disyukuri dan digunakan dengan bijak. Oleh karena itu, sikap tawadhu’ atau rendah hati harus selalu dikedepankan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam cara berpakaian. Ceramah tersebut semakin menarik ketika Bapak Abbas mengungkapkan bahwa pakaian yang dikenakan Nabi Muhammad SAW konon dapat mengobati orang sakit. Meskipun ini lebih bersifat simbolis, namun menunjukkan betapa besar nilai dan keberkahan yang terkandung dalam setiap aspek kehidupan Nabi, termasuk pakaian beliau. Hal ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk selalu menjaga kebersihan dan niat yang baik dalam berpakaian, karena apa yang kita kenakan juga bisa membawa berkah atau sebaliknya. Selain itu, Bapak Abbas menyinggung tentang hukum memakai emas bagi laki-laki dan perempuan. Dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda, sehingga penggunaannya pun harus disesuaikan dengan tuntunan syariat. Misalnya emas adalah perhiasan yang diperbolehkan bagi perempuan, tetapi dilarang bagi laki-laki. Larangan ini bertujuan untuk menjaga kesederhanaan dan menghindarkan laki-laki dari sifat riya’ atau pamer. Sedangkan bagi perempuan, emas diperbolehkan sebagai bentuk perhiasan yang menambah keindahan, asalkan tidak menjadi sarana untuk menunjukkan kekayaan atau status sosial yang tinggi.

Pada sesi kedua, Bapak Abbas membahas tentang bab jenazah yang mengingatkan peserta akan pentingnya kesadaran kematian. Beliau menyatakan bahwa mengingat mati adalah cara efektif untuk menjauhkan diri dari dosa. Dengan sering mengingat kematian, seseorang akan lebih berhati-hati dalam setiap tindakannya dan berusaha mengisi hidupnya dengan kebaikan. Bapak Abbas juga menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh mengharapkan mati atau merencanakan kematian, karena hidup dan mati adalah kuasa Allah semata. Sebaliknya, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri dengan amal saleh dan doa, seperti membaca Surat Yasin, yang dipercaya dapat mendatangkan ketenangan dan rahmat pada saat-saat terakhir kehidupan. Kegiatan Jumat Religi ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi seluruh peserta. Dengan memahami etika berpakaian dan kesadaran akan kematian, diharapkan warga SMKN 2 Semarang dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik, penuh kesederhanaan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh ilmu yang didapatkan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Penulis : Tim PLP 1 UIN Walisongo Semarang

Editor   : Nurul Rahmawati, S.Pd., Guru SMKN 1 Tuntang